Begini Cara Mengeluarkan Gumpalan Darah Setelah Melahirkan yang Aman

Setelah melahirkan wanita akan mengalami nifas selama kurang lebih 40 hari, selama periode itu tidak jarang juga keluar gumpalan-gumpalan seperti jeli atau agar-agar yang berasal dari pembekuan darah. Agar tuntas maksimal, cari tahu cara mengeluarkan gumpalan darah setelah melahirkan yang aman di sini!

Gumpalan Darah Setelah Melahirkan, Normalkah?

Sebelum mencari tahu cara mengeluarkan gumpalan darah setelah melahirkan, mari ketahui dulu apakah gumpalan darah ini normal atau tidak. 

Sekitar 6-8 minggu setelah wanita melahirkan, tubuh berada dalam fase penyembuhan. Tubuh biasanya mengalami pendarahan yang disebut dengan nifas. 

Perlu diketahui, jika tidak semua pendarahan setelah melahirkan berbentuk cair. Beberapa orang justru mengalami penggumpalan dengan ukuran cukup besar yang biasanya akan dikeluarkan cukup banyak pada 24 jam pertama setelah melahirkan. 

Pembekuan darah yang terlihat seperti agar-agar ini merupakan kondisi normal saat rahim berkontraksi dan mulai mengecil serta usaha untuk membuang jaringan dinding rahim setelah melahirkan. 

Gumpalan darah ini biasanya berasal dari jaringan yang rusak di dalam rahim dan saluran lahir setelah kamu melahirkan. 

Cara Mengeluarkan Gumpalan Darah Setelah Melahirkan 

Setelah melahirkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya darah nifas bisa keluar dengan lancar seperti berikut ini: 

1. Istirahat yang cukup 

Istirahat sangat dibutuhkan bagi ibu yang baru melahirkan terutama di minggu pertamanya. Selain istirahat dukungan dari orang terdekat seperti suami dan orang tua sangat dibutuhkan. Meski merawat bayi butuh banyak tenaga, coba usahakan dengan mengikuti pola bayi contohnya ikut tidur saat bayi tidur. 

2.Sering menyusui ASI pada bayi 

Sering menyusui ASI pada bayi memberikan banyak manfaat pada ibu baru melahirkan. Saat menyusui tubuh akan mengeluarkan hormon oksitosin yang bermanfaat untuk membantu mengecilkan rahim dan mencegah pendarahan termasuk di dalamnya membantu mengeluarkan darah nifas dengan lebih lancar. Jadi, bagi kamu yang baru melahirkan, usahakan untuk menyusui bayi secara langsung, ya. 

3.Perhatikan asupan nutrisi 

Ibu yang baru melahirkan membutuhkan asupan nutrisi ekstra untuk membantu proses pemulihan pasca persalinan. Pada masa ini asupan kalori kamu akan bertambah apalagi jika menyusui ASI. Kamu akan membutuh kalori sebanyak 2.300 – 2.500. 

Pilih makanan yang sehat dan bergizi seimbang setelah melahirkan, hindari makanan cepat saji dan makanan instan.  Beberapa jenis makanan yang baik untuk ibu pasca melahirkan di antaranya telur, buah-buahan, sayuran hijau, daging sapi tanpa lemak, kurma, susu, produk olahan susu, dan kacang-kacangan. 

4.Lakukan aktivitas semampunya

Melahirkan bukan berarti kamu harus bedrest total, supaya darah nifas bisa keluar dengan lancar usahakan untuk melakukan aktivitas semampunya. Jangan dipaksakan melakukan aktivitas berat, dianjurkan untuk sesekali melakukan olahraga ringan supaya otot tubuh tidak kaku. 

Hindari stres 

Stres setelah melahirkan yang tidak terkontrol bisa menyebabkan baby blues atau bahkan depresi. Selain itu stres juga bisa membuat aliran darah nifas terganggu. Disela-sela watu cobalah untuk melakukan me time, tingkatkan komunikasi dengan orang lain terutama pasangan, saat lelah jangan ragu untuk meminta bantuan orang lain. 

Tanda dan Gejala Gumpalan Darah Abnormal 

Setelah mengetahui cara mengeluarkan gumpalan darah setelah melahirkan, selanjutnya hal yang harus kamu ketahui adalah tanda gumpalan darah setelah melahirkan yang abnormal yang perlu di waspadai. Nifas dengan gumpalan darah termasuk abnormal jika disertai dengan gejala, seperti:

  • Sesak nafas 
  • Nyeri pada dada 
  • Pusing kepala hingga pingsan 
  • Kulit terasa lembab atau dingin 
  • Ritme detak jantung lebih cepat dan tidak teratur 
  • Deep vein thrombosis (DVT) yang ditandai dengan gejala kemerahan, nyeri, bengkak, dan rasa hangat pada tungkai kaki 

Itulah dia beberapa informasi seputar cara mengeluarkan gumpalan darah setelah melahirkan yang aman serta tanda gumpalan darah abnormal selama nifas yang perlu di waspadai. Semoga bermanfaat, Bunda!

Darah yang Keluar Dari Rahim Wanita Setelah Melahirkan Disebut Apa?

Darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan disebut lokia atau nifas. Kondisi ini memang normal terjadi karena tubuh berusaha mengeluarkan sisa jaringan dan pembuluh darah selama proses kehamilan untuk membersihkan rahim.  Buat kamu yang penasaran dengan periode nifas, mari simak informasi lengkapnya berikut ini!

Mengenal Darah yang Keluar dari Rahim Setelah Melahirkan

Darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan disebut dengan nifas, darah yang keluar mirip seperti menstruasi namun berbeda dilihat dari jumlahnya yang keluar lebih banyak dan lebih berat. 

Keluarnya darah adalah kondisi yang normal dan pasti akan terjadi pada setiap wanita baik yang melahirkan secara normal maupun Caesar. Namun, biasanya darah nifas yang keluar pada wanita yang menjalani persalinan Caesar lebih sedikit dibanding persalinan normal. 

Darah nifas berasal dari pembuluh darah arteri dan vena yang ada di plasenta. Selama proses kehamilan, plasenta akan melekat pada dinding rahim dan berfungsi untuk memberi nutrisi dan suplai oksigen pada janin. 

Setelah melahirkan, plasenta akan lepas dari rahim yang menyebabkan pembuluh darah dinding rahim menjadi robek sehingga darah mulai membanjiri rahim setelah bayi dan ari-ari berhasil dilahirkan. 

Pendarahan akan berhenti setelah plasenta keluar, rahim akan berkontraksi dan pembuluh darah yang robek akan tertutup. Nifas biasanya terjadi selama 2-6 minggu. 

Perubahan Darah Nifas dari Awal sampai Akhir 

Kini kamu telah mengetahui bahwa darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan adalah nifas. Nah, nifas ini bisa terjadi selama beberapa minggu. Maka dari itu, yuk kenali perubahan volume dan warna darah nifas di bawah ini : 

  • Hari pertama 

Darah berwarna merah terang atau merah kecokelatan, karena nifas lebih banyak mengandung darah dibanding jaringan dari lapisan dinding rahim. 

  • Hari ke-2 sampai ke-6 

Tekstur darah nifas yang keluar lebih berair dengan warna coklat tua atau merah muda 

  • Hari ke-7 sampai ke-10 

Warna darah nifas coklat, merah muda, atau putih kekuningan. Hal ini dikarenakan darah nifas lebih banyak mengandung sel darah putih dan serpihan jaringan rahim. 

  • Hari ke-11 sampai ke-14 

Umumnya, warna darah nifas akan putih kekuningan, namun jika kamu aktif lagi, warna darah yang keluar bisa berubah kemerahan. 

  • Minggu ke-3 sampai ke-4 

Pada masa ini darah nifas masih keluar dengan warna putih kekuningan atau lebih pucat. 

  • Minggu ke-6 

Pada masa ini jumlah darah yang keluar sangat sedikit dan berwarna putih kekuningan, sesekali cairan bisa berubah warna menjadi merah muda atau kecokelatan setelah kamu melakukan aktivitas berat. 

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Selama Nifas 

Selama masa nifas kamu bisa menyediakan pembalut lebih banyak seperti halnya saat menstruasi. Pilih pembalut yang lembut supaya nyaman dipakai terlebih lagi jika ada luka bekas jahitan. 

Ganti pembalut secara rutin, selalu menjaga kebersihan Miss V dan rajin cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut. 

Bersihkan juga area vagina dan perineum, yaitu bagian antara vagina dan anus untuk mencegah infeksi dan usahakan untuk mandi setidaknya 2x sehari. 

Kondisi Darah Nifas yang Dianggap Berbahaya 

Darah nifas bisa dianggap berbahaya apabila darah yang keluar tidak normal seperti berikut: 

  • Darah menimbulkan bau tidak sedap 
  • Darah yang keluar masih banyak dan berwarna terang meski sudah 4 hari setelah melahirkan dan banyak istirahat
  • Darah nifas yang keluar tiba-tiba jadi sangat banyak, dan kamu jadi harus mengganti pembalut dalam waktu 1 jam
  • Keluar gumpalan besar seukuran koin dari vagina 
  • Saat ditekan, perut bagian bawah terasa nyeri 
  • Ritme detak jantung jadi cepat dan tidak beraturan

Setelah kamu mengetahui bahwa darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan disebut dengan nifas, tentunya kamu tidak perlu khawatir. Namun, lain halnya jika kamu mengalami gejala darah nifas tidak normal, kamu perlu mengunjungi dokter kandungan sesegera mungkin untuk penanganan lebih baik.

Darah yang Keluar Dari Rahim Wanita Setelah Melahirkan Disebut Apa? 

Darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan disebut lokia atau nifas. Kondisi ini memang normal terjadi karena tubuh berusaha mengeluarkan sisa jaringan dan pembuluh darah selama proses kehamilan untuk membersihkan rahim.  Buat kamu yang penasaran dengan periode nifas, mari simak informasi lengkapnya berikut ini!

Mengenal Darah yang Keluar dari Rahim Setelah Melahirkan

Darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan disebut dengan nifas, darah yang keluar mirip seperti menstruasi namun berbeda dilihat dari jumlahnya yang keluar lebih banyak dan lebih berat. 

Keluarnya darah adalah kondisi yang normal dan pasti akan terjadi pada setiap wanita baik yang melahirkan secara normal maupun Caesar. Namun, biasanya darah nifas yang keluar pada wanita yang menjalani persalinan Caesar lebih sedikit dibanding persalinan normal. 

Darah nifas berasal dari pembuluh darah arteri dan vena yang ada di plasenta. Selama proses kehamilan, plasenta akan melekat pada dinding rahim dan berfungsi untuk memberi nutrisi dan suplai oksigen pada janin. 

Setelah melahirkan, plasenta akan lepas dari rahim yang menyebabkan pembuluh darah dinding rahim menjadi robek sehingga darah mulai membanjiri rahim setelah bayi dan ari-ari berhasil dilahirkan. 

Pendarahan akan berhenti setelah plasenta keluar, rahim akan berkontraksi dan pembuluh darah yang robek akan tertutup. Nifas biasanya terjadi selama 2-6 minggu. 

Perubahan Darah Nifas dari Awal sampai Akhir 

Kini kamu telah mengetahui bahwa darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan adalah nifas. Nah, nifas ini bisa terjadi selama beberapa minggu. Maka dari itu, yuk kenali perubahan volume dan warna darah nifas di bawah ini : 

1. Hari pertama 

Darah berwarna merah terang atau merah kecokelatan, karena nifas lebih banyak mengandung darah dibanding jaringan dari lapisan dinding rahim. 

  • Hari ke-2 sampai ke-6 

Tekstur darah nifas yang keluar lebih berair dengan warna coklat tua atau merah muda 

  • Hari ke-7 sampai ke-10 

Warna darah nifas coklat, merah muda, atau putih kekuningan. Hal ini dikarenakan darah nifas lebih banyak mengandung sel darah putih dan serpihan jaringan rahim. 

  • Hari ke-11 sampai ke-14 

Umumnya, warna darah nifas akan putih kekuningan, namun jika kamu aktif lagi, warna darah yang keluar bisa berubah kemerahan. 

  • Minggu ke-3 sampai ke-4 

Pada masa ini darah nifas masih keluar dengan warna putih kekuningan atau lebih pucat. 

  • Minggu ke-6 

Pada masa ini jumlah darah yang keluar sangat sedikit dan berwarna putih kekuningan, sesekali cairan bisa berubah warna menjadi merah muda atau kecokelatan setelah kamu melakukan aktivitas berat. 

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Selama Nifas 

Selama masa nifas kamu bisa menyediakan pembalut lebih banyak seperti halnya saat menstruasi. Pilih pembalut yang lembut supaya nyaman dipakai terlebih lagi jika ada luka bekas jahitan. 

Ganti pembalut secara rutin, selalu menjaga kebersihan Miss V dan rajin cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut. 

Bersihkan juga area vagina dan perineum, yaitu bagian antara vagina dan anus untuk mencegah infeksi dan usahakan untuk mandi setidaknya 2x sehari. 

Kondisi Darah Nifas yang Dianggap Berbahaya 

Darah nifas bisa dianggap berbahaya apabila darah yang keluar tidak normal seperti berikut: 

  • Darah menimbulkan bau tidak sedap 
  • Darah yang keluar masih banyak dan berwarna terang meski sudah 4 hari setelah melahirkan dan banyak istirahat
  • Darah nifas yang keluar tiba-tiba jadi sangat banyak, dan kamu jadi harus mengganti pembalut dalam waktu 1 jam
  • Keluar gumpalan besar seukuran koin dari vagina 
  • Saat ditekan, perut bagian bawah terasa nyeri 
  • Ritme detak jantung jadi cepat dan tidak beraturan

Setelah kamu mengetahui bahwa darah yang keluar dari rahim wanita setelah melahirkan disebut dengan nifas, tentunya kamu tidak perlu khawatir. Namun, lain halnya jika kamu mengalami gejala darah nifas tidak normal, kamu perlu mengunjungi dokter kandungan sesegera mungkin untuk penanganan lebih baik.

Kenapa Menstruasi Sedikit? Simak Penjelasannya di Sini!

Terkadang, wanita mengalami menstruasi yang sedikit. Kenapa menstruasi sedikit dan apa saja penyebabnya? Artikel ini akan membahas kenapa menstruasi sedikit dan beberapa hal yang perlu kamu ketahui informasinya. Simak sampai akhir, ya!

Penyebab Menstruasi Sedikit

Pada dasarnya, menstruasi yang lebih ringan (darah yang keluar tidak banyak) dari biasanya seringkali tidak perlu dikhawatirkan. Beberapa orang sering mengalami aliran menstruasi yang bervariasi dari bulan ke bulan. Bisa jadi, beberapa bulan hanya lebih ringan daripada bulan yang lain.

Hal yang sering membuat wanita bertanya-tanya adalah kenapa menstruasi sedikit dan apa penyebab yang melatarbelakanginya. Faktanya, setiap wanita mengalami menstruasi ringan dengan penyebab yang beragam. Namun, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kenapa menstruasi sedikit. Berikut ini adalah beberapa faktor penyebabnya.

1. Kurangnya Ovulasi

Terkadang, seseorang bisa mengalami aliran menstruasi yang sedikit dan tidak teratur karena tubuhnya tidak mengeluarkan sel telur. Kondisi ini dikenal sebagai anovulasi dan bisa menyebabkan menstruasi yang tidak teratur dan lebih sedikit.

2. Usia

Aliran menstruasi pada seseorang dapat bervariasi sepanjang hidupnya. Misalnya, ketika seseorang pertama kali mengalami menstruasi, alirannya biasanya lebih ringan dan hanya berupa bercak. Aliran tersebut dapat menjadi lebih teratur ketika seseorang berusia 20-30 tahun.

Akan tetapi, pada akhir usia 30-40 tahun-an, wanita mungkin mengalami aliran menstruasi yang lebih berat dan lebih pendek. Beberapa orang mungkin juga tidak mengalami menstruasi selama beberapa bulan.

3. Perubahan Berat Badan

Orang yang kekurangan berat badan atau kehilangan banyak berat badan dengan cepat mungkin dapat mengalami menstruasi yang lebih sedikit. Perubahan ini terjadi karena lemak di tubuh mereka terlalu rendah dan menghentikan ovulasi, sehingga menjadi penyebab umum kenapa menstruasi sedikit.

4. Kondisi Medis

Ada kondisi medis tertentu yang menjadi jawaban atas pertanyaan kenapa menstruasi sedikit. Kondisi medis tertentu yang bisa memengaruhi hormon seseorang juga dapat memengaruhi siklus menstruasi. Beberapa kondisi tersebut dapat berupa disfungsi tiroid, PCOS, perimenopause, dan lain sebagainya.

5.Gejala

Setelah mengetahui kenapa menstruasi sedikit, kamu mungkin ingin mengetahui apa saja gejala menstruasi sedikit pada seseorang. Ada beberapa gejala umum yang dialami seseorang yang mengalami menstruasi sedikit.

Beberapa gejalanya adalah menstruasi dengan durasi yang lebih pendek dari biasanya, lebih jarang mengganti pembalut dari biasanya, dan tidak ada aliran deras yang biasa untuk 1-2 hari pertama menstruasi.

Selain itu, wanita yang mengalami menstruasi sedikit mungkin juga mengalami pendarahan yang menyerupai bercak selama beberapa hari alih-alih aliran menstruasi yang stabil. Wanita mungkin juga tidak terlalu mengalami gejala sindrom pramenstruasi, seperti nyeri punggung, kram rahim, dan lain-lain.

Cara Mengobati Menstruasi

Menstruasi yang ringan atau sedikit mungkin bisa disebabkan oleh salah satu faktor di atas. Kondisi ini mungkin bisa terjadi sekali atau beberapa kali dalam siklus menstruasi seseorang. Jika menstruasi sedikit tersebut terus berlanjut dan kamu mengalami gejala yang mengganggu, maka kamu perlu untuk segera mengunjungi dokter.

Dokter akan mendiskusikan kemungkinan penyebab utama kenapa menstruasi sedikit. Kamu mungkin juga akan dianalisis dan diuji dengan teknik kesehatan tertentu untuk menentukan rencana perawatan yang tepat.

Sama seperti dengan kondisi kesehatan lainnya, kamu perlu untuk memeriksakan diri dan mengkonsultasikan kondisi-kondisi khusus kepada dokter dan ahli kesehatan. Dalam hal menstruasi yang sedikit kamu perlu untuk mengkonsultasikan kepada dokter agar mengetahui penyebab pasti kenapa menstruasi sedikit dan menjalani perawatannya.

Mengenal Self Harm dan Cara Mengatasinya

Belakangan ini, istilah self harm sering disebut di platform media sosial. Ada banyak hal yang melatarbelakangi seseorang untuk melakukan tindakan tersebut. Mari mengenal lebih jauh tentang self harm di artikel ini.

Definisi

Tindakan self harm atau diartikan sebagai tindakan menyakiti diri sendiri dengan cara melukai diri sebagai cara untuk menghadapi perasaan yang sangat sulit dan situasi yang menyedihkan. Selain itu, ada beberapa orang yang melakukan tindakan ini untuk menghadapi kenangan yang sangat menyakitkan

Sebagian orang menggambarkan self harm sebagai cara untuk mengungkapkan sesuatu yang dulit untuk diungkapkan melalui kata-kata dan sebagai sarana untuk mengubah rasa sakit emosional menjadi rasa sakit fisik. Selain itu, tindakan menyakiti diri juga dilakukan beberapa orang untuk menghukum diri sendiri atas pengalaman menyakitkan yang dialami.

Penyebab

Tidak ada penyebab pasti tentang mengapa seseorang berani untuk melukai diri sendiri. Penyebabnya akan sangat berbeda pada setiap orang. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tindakan menyakiti diri sendiri dapat menjadi cara seseorang untuk menghadapi pengalaman dan kondisi menyakitkan tertentu.

Pengalaman menyedihkan dan kondisi yang sulit tersebut dapat berupa tekanan di lingkungan sekolah atau tempat kerja, intimidasi dari orang lain, kekhawatiran soal keuangan, kehilangan seseorang, dan kehilangan pekerjaan. Ada juga yang melakukan self harm karena trauma akibat pelecehan fisik, seksual, ataupun emosional.

Seseorang juga dapat melakukan tindakan melukai diri sendiri akibat memiliki penyakit atau masalah kesehatan. Selain itu, kondisi depresi, rasa cemas berlebihan, dan tingkat kepercayaan diri yang rendah juga dapat menyebabkan seseorang untuk menyakiti atau melukai diri sendiri.

Mengenal Self Harm dan Cara Mengatasinya

Apabila kamu melakukan tindakan self harm dan berencana untuk menghentikan kebiasaan tersebut, beberapa hal ini mungkin dapat membantumu untuk keluar dari kebiasaan tersebut. Simak, ya!

1. Pahami Pola

Kamu perlu untuk memahami pola menyakiti diri sendiri. Hal ini akan membantumu untuk mengetahui apa yang mendorongmu untuk melukai diri sendiri dan mengenali kapan dorongan untuk melakukan hal tersebut muncul.

Kamu bisa mulai mengenali pemicu yang memberi kamu dorongan untuk menyakiti diri sendiri. Pemicu (trigger) tersebut dapat berupa situasi buruk, orang, sensasi, pikiran, dan perasaan tertentu.

Apabila kamu sudah mulai memahami pemicu dan tanda-tanda ingin melakukan self harm, kamu bisa mencegahnya dengan melakukan kegiatan positif lain. Distraksi positif ini membantu sebagian orang untuk menghentikan kebiasaan melukai diri sendiri secara bertahap.

2. Cari Distraksi Positif

Sama halnya dengan penjelasan sebelumnya, distraksi positif akan membantumu untuk menghilangkan kebiasaan menyakiti diti sendiri. Setiap orang memiliki distraksinya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kamu juga bisa mulai menemukan distraksi positif yang cocok untukmu.

Beberapa saran distraksi yang bisa kamu lakukan ketika mengalami perasaan ingin menyakiti diri sendiri adalah olahraga, menari, dan merobek-robek kertas tak terpakai ketika mengalami frustrasi hebat. Ketika kamu merasa sedih dan takut, kamu bisa memakai selimut, bermain dengan hewan peliharaan, dan membiarkan dirimu menangis hingga tertidur.

Apabila kamu merasa membenci dirimu sendiri dan ingin menghukum diri, kamu bisa melakukan beberapa hal ini untuk mendistraksi hal-hal tersebut. Tulislah hal-hal yang membuatmu merasa bangga dengan dirimu sendiri, luapkan rasa bencimu melalui olahraga, dan kamu juga bisa mengekspresikan diri dengan menciptakan karya, seperti puisi dan lagu.

Self harm akan sangat mengancam kehidupan seseorang, khususnya apabila dilakukan secara terus menerus. Oleh karena itu, kenali tanda-tanda ingin self harm dengan baik dan temukan distraksi positif terbaik untuk menghentikan kebiasaan tersebut.